facebook.comtwitter.comgoogleplus.cominstagram.com

Rubrik: Opini : 2 Februari 2018
Merawat Keberagaman Indonesia dengan Toleransi

INDONESIA memiliki keberagaman budaya serta agama yang patut dibanggakan. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara majemuk. Oleh karena itu perlu adanya toleransi dan saling menghargai yang tinggi. Sebagai makhluk sosial manusia diwajibkan mampu berinteraksi dengan manusia lain dalam rangka memenuhi kebutuhan. 

 

Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda dengannya salah satunya adalah perbedaan kepercayaan / agama. Dalam menjalani kehidupan sosial tidak bisa dipungkiri akan ada gesekan-gesekan yang akan dapat terjadi antar kelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan agama atau ras. Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghargai dan menghormati, sehingga tidak terjadi gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian.

 

Toleransi berasal dari bahasa latin dari kata "Tolerare" yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain. 

 

Toleransi juga dapat dikatakan istilah pada konteks agama dan sosial budaya yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap golongan-golongan yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas pada suatu masyarakat. Misalnya toleransi beragama dimana penganut Agama mayoritas dalam sebuah masyarakat mengijinkan keberadaan agama minoritas lainnya. 

 

Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.

 

Pandangan ini muncul dilatarbelakangi oleh semakin meruncingnya hubungan antar umat beragama di indonesia. Penyebab munculnya ketegangan antar umat beragama yaitu kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama pihak lain. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan masyarakat. 

 

Sifat dari setiap agama, yang mengandung misi dakwah dan tugas dakwah. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat. Para pemeluk agama tidak mampu mengontrol diri, sehingga tidak menghormati bahkan memandang rendah agama lain. Kecurigaan terhadap pihak lain, baik antar umat beragama, intern umat beragama, atau antara umat beragama dengan pemerintah. 

 

Pluralitas agama hanya dapat dicapai seandainya masing-masing kelompok bersikap lapang dada satu sama lain. Sikap lapang dada dalam kehidupan beragama akan memiliki makna bagi kemajuan dan kehidupan masyarakat plural, apabila ia diwujudkan dalam sikap saling mempercayai atas itikad baik golongan agama lain. Sikap saling menghormati hak orang lain yang menganut ajaran agamanya. Sikap saling menahan diri terhadap ajaran, keyakinan dan kebiasan kelompok agama lain yang berbeda, yang mungkin berlawanan dengan ajaran, keyakinan dan kebiasaan sendiri.

 

Sikap saling tolong menolong antar sesama umat yang tidak membedakan suku, agama, budaya maupun ras. Rasa saling menghormati serta menghargai antar sesama umat beragama. Seperti di salah satu daerah di Bali sendiri penduduk tidak hanya beragama hindu dan berasal dari suku Bali saja tetapi dari berbagai agama dan suku. Dalam kesehariannya dan jika ada hari raya besar penduduk saling mengamankan dan membantu kelancaran ibadah umat yg beragama lain.  

 

Jadi, bentuk kerjasama ini harus kita praktekkan dalam kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan serta tidak menyinggung keyakinan pemeluk agama lain. Melalui toleransi diharapkan terwujud ketertiban, ketenangan dan keaktifan dalam menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.tersebut, baik pihak masjid maupaun gereja akan bergabung untuk mencegahnya. 

 

Selain itu, Toleransi antarumat beragama antara pemeluk Agama Islam dan Kristen di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah, Serengan, Kota Solo, Jateng yang sudah tercipta sejak dahulu. Dua bangunan tersebut berdampingan serta memiliki alamat yang sama. Namun Perbedaan keyakinan tidak menyurutkan semangat pemeluk Kristen dan Islam setempat untuk saling menjaga kerukunan, menghormati dan mengembangkan sikap toleransi. Bangunan Masjid Al Hikmah didirikan pada tahun 1947 sedangkan GKJ Joyodingratan didirikan 10 tahun sebelumnya atau sekitar 1937. 

 

Namun Toleransi antarumat beragama telah tercipta sejak lama disini. Keindahan toleransi semakin tercermin saat pelaksanaan Idul Fitri yang jatuh pada Minggu yang segera disikapi oleh pihak gereja yang memundurkan jadwal misanya menjadi Jam 10.00 WIB.

 

Berbanding terbalik jika toleransi tidak diterapkan, kita bisa melihat bagaimana kejinya ketika kasus intoleran yang terjadi di Lampung, berawal dari saling menghina agama yang berujung pada pembakaran rumah di perkampungan Bali. Korban yang tidak berdosa mendapatkan ganjaran oleh aksi intoleran. Tidak menutup kemungkinan jika ini masih terjadi di Indonesia, 20 tahun kedepan Indonesia hanyalah sebuah nama. 

 

Jadi didalam kehidupan kita sehari hari tidak terlepas dari perbedaan, perbedaan adalah kunci dalam kebahagiaan. Kita akan melangkah ke jalan yang benar dengan toleransi atau kita melangkah di kehancuran. Oleh sebab itu, sudah saatnya masyarakat mulai sadar betapa pentingnya toleransi dan harmonisasi antar umat beragama dalam merawat NKRI. ***

 

*)  Indah Rahmawati Salam, Penulis adalah Mahasiswi IAIN Kendari

Editor: Ril : Penulis: Indah Rahmawati Sala