20 Rabiul Awwal 1443 H / Rabu, 27 Oktober 2021
Haruskah Sampai Membenci Produk Impor?
opini | Kamis, 4 Maret 2021
Editor : Indira Rezkisari | Penulis : Antara

Ilustrasi

Cinta produk lokal adalah jargon yang sejak dulu sudah dikumandangkan setiap pemimpin di Tanah Air. Presiden Joko Widodo bahkan meminta jajarannya mendorong masyarakat untuk mencintai dan mendukung produk-produk dalam negeri serta menggaungkan untuk membenci produk-produk luar negeri.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan, tujuan ajakan itu sebetulnya baik karena mengajak untuk menggunakan produk dalam negeri. Namun, semestinya ajakan dari seorang Presiden bisa lebih diplomatif.

"Khawatirnya kalau kita gaungkan benci produk luar negeri, lalu dibalas benci produk Indonesia bagaimana? Kita jadi tidak bisa ekspor," kata Heri, Kamis (4/3).

Ia mengatakan, di banyak negara saat ini memang sudah mulai intens untuk mengajak masyarakatnya mengutamakan produk dalam negeri. Namun, hal itu dilakukan dengan slogan-slogan yang fokus pada negeri sendiri tanpa menyinggung negara lain.

Heri melanjutkan, yang terpenting adalah bagaimana agar pemerintah bisa memperkuat posisi industri dalam negeri untuk melakukan substitusi produk impor. "Itu kan perlu roadmap, apa yang mau dikurangi impornya harus diimbangi dengan kemampuan industri. Kalau kita langsung kurangi impor, nanti kekurangan barang repot juga," ujar dia.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah soal harga barang substitusi impor. Ia menekankan, harga juga harus bisa bersaing agar masyarakat benar-benar mengutamakan produk dalam negeri.

"Slogan yang harus dibangun itu aku cinta produk indonesia, produk lokal, atau made in Indonesia 2022. Banyak sebenarnya di berbagai negara. Tapi, kalau statement benci itu menyerang, ya kita nanti balas. Jadi, fokus ke industri kita saja," katanya.

Lebih lanjut, ia menilai pemerintah melalui Kementerian Perindustrian sudah memiliki semangat untuk substitusi impor, salah satunya dalam target penurunan impor produk manufaktur sebanyak 35 persen. Arah itu sudah baik, tetapi harus diiringi dengan tindakan agar utilisasi dan produktivitas industri dalam negeri ikut membaik.

Seruan untuk lebih banyak membeli produk dalam negeri disambut baik Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi). "Ini yang kami tunggu, setelah 10 tahun kami menggelorakan gerakan ayo kembali belanja ke pasar tradisional dan  ayo belanja ke warung rumahan untuk cintai produk dalam negeri dan produk-produk UMKM sendiri," kata Ketua Bidang Organisasi DPP Ikappi, Muhammad Ainun Najib, dalam keterangan resmi.

Ia mengatakan, ajakan dari Presiden patut dipandang positif. Harapannya, pesan Presiden mendapat respons positif juga dari masyarakat untuk kembali berdiri di kaki sendiri.

"Kita semua tahu bahwa pandemi ini menggerus seluruh sektor ekonomi. Jika kita tidak membangkitkan kembali sektor ekonomi, kita tidak mungkin bertahan untuk menghadapi pandemi," ujarnya.

Ia menyatakan, krisis ekonomi akan terus terjadi selama Indonesia sendiri tidak memutarkan produk-produk asli lokal sendiri untuk dikonsumsi di dalam negeri. "Maka, kita harus mengubah strategi untuk kembali mencintai produk kita sendiri," ujarnya.

Ainun mencontohkan, diketahui bersama 95 persen bawang putih yang dikonsumsi masih impor dari China dan beberapa komuditas lain, seperti kedelai, jagung, dan seterusnya akan terus mengalir impor-impor buah di dalam negeri. Katanya, ini adalah momentum petani kita untuk kembali bangkit dan pulih. Masyarakat juga harus kembali sadar bahwa produk dalam negeri jauh lebih berkualitas dibanding produk luar negeri ini momentum berbenah.

"Kami mengajak semua pihak untuk ikut membuat gerakan cinta produk dalam negri dan ikut membangkitkan usaha kecil menengah melalui semua media sosial yang dimiliki. Ini saatnya kita berdiri di kaki kita sendiri dan memperkuat ekonomi nasional. Ayo kembali belanja ke pasar tradisional," katanya.

Presiden Joko Widodo meminta Kementerian Perdagangan menyiapkan kebijakan dan strategi untuk mengembangkan pasar produk nasional, khususnya UMKM. Ia pun meminta agar jajarannya mendorong masyarakat untuk mencintai dan mendukung produk-produk dalam negeri serta menggaungkan untuk membenci produk-produk luar negeri.

“Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri harus terus digaungkan. Produk-produk dalam negeri digaungkan. Gaungkan juga benci produk-produk luar negeri. Bukan hanya cinta tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri,” kata Jokowi saat meresmikan pembukaan rapat kerja nasional kementerian perdagangan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3).

Selain itu, ia juga meminta agar pusat perbelanjaan seperti mall di berbagai daerah memberikan ruang bagi produk-produk buatan Indonesia, khususnya produk UMKM. Lokasi-lokasi strategis di pusat perbelanjaan pun harus diisi oleh merk produk-produk lokal.

“Jangan sampai ruang depan, lokasi-lokasi strategis justru diisi dari brand-brand dari luar negeri, ini harus mulai digeser. Mereka digeser ke tempat yang tidak strategis. Tempat yang strategis, lokasi yang baik berikan ruang untuk brand-brand lokal,” ujar dia.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa dan sebagai pasar yang sangat besar, seharusnya masyarakat lebih loyal dan mencintai produk-produk buatan bangsa. Karena itu, ia meminta agar branding untuk mencintai produk lokal harus lebih ditingkatkan.

“Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal, sekali lagi untuk produk-produk Indonesia,” tambahnya.

Sejalan dengan perintah Presiden, Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, menyampaikan ke depan merek-merek lokal akan menjadi primadona di berbagai pusat perbelanjaan di Indonesia. "Merek-merek Indonesia akan menjadi primadona di mal-mal di Indonesia, kita akan atur aturannya, supaya orang Indonesia bangga membeli produk-produk Indonesia dan turut mengembangkan produk lokal," kata Lutfi saat menggelar konferensi pers virtual.

Upaya tersebut sejalan dengan program pengembangan produk nasional melalui Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang digagas Presiden Jokowi, sehingga produk-produk buatan anak bangsa dapat dibanggakan dan dibeli oleh masyarakat Indonesia. Lutfi memaparkan selama ini pemerintah lebih fokus untuk mengembangkan sisi suplai perdagangan.

Untuk itu saatnya menggerakkan sisi permintaan. Indonesia dinilai potensial karena memiliki jumlah penduduk 270 juta jiwa.

"Konsumen Indonesia yang 270 juta jiwa itu adalah penting dan bisa memberikan nilai tambah, bargaining position terhadap negara lain, dan memajukan produk-produk buatan Indonesia," ujar Lutfi.

Dengan demikian, lanjut dia, masyarakat Indonesia dapat menjadi konsumen loyal bagi produk-produk yang diproduksi oleh sebangsanya, sehingga pelaku usaha baik industriawan hingga selaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Penulis: Dedy Darmawan Nasution, Dessy Suciati Saputri
 



Artikel Terbaru
politik | Rabu, 27 Oktober 2021

Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Pekanbaru merekomendasikan pencopotan Hamdani sebagai Ketua.


pekanbaru | Rabu, 27 Oktober 2021

Pemerintah Kota Pekanbaru melanjutkan evaluasi terhadap para pejabat eselon III dan IV. Langkah.


riau | Senin, 25 Oktober 2021

Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Provinsi Riau per 25 Oktober terdapat penambahan 16 kasus baru,.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru mendata mayoritas sekolah yang melaksanakan.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Capaian vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum di Kota Pekanbaru sudah lebih 70 persen. Total.



nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur,.


pasar | Senin, 25 Oktober 2021
.

nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Warga di Gang Gotong Royong, Munjul, Jakarta Timur mendengar dentuman keras saat dua rangkaian.


nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Presiden Joko Widodo meminta untuk regulasi hasil tes polymerase chain reaction (PCR) diubah.


Okt 2021
27

ASN Dilarang Mudik Pakai Mobil Dinas | PT IJA/JCI Sukses Laksanakan Vaksinasi Tahap II | Akhirnya Riau Turun ke Level 2, Kadiskes Minta Masyarakat Tetap Prokes | Pasukan Israel Tembak Mati Warga Palestina di Perbatasan Gaza | Alat ISPU di Kawasan Kantor Bupati Inhil Rusak | Pemkab Inhil Harus Susun Program Pencegahan Karhutla | AHM Raih 15 Penghargaan di TBCCI |

Ilustrasi

Haruskah Sampai Membenci Produk Impor?

opini | Kamis, 4 Maret 2021
Editor : Indira Rezkisari | Penulis : Antara

Cinta produk lokal adalah jargon yang sejak dulu sudah dikumandangkan setiap pemimpin di Tanah Air. Presiden Joko Widodo bahkan meminta jajarannya mendorong masyarakat untuk mencintai dan mendukung produk-produk dalam negeri serta menggaungkan untuk membenci produk-produk luar negeri.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan, tujuan ajakan itu sebetulnya baik karena mengajak untuk menggunakan produk dalam negeri. Namun, semestinya ajakan dari seorang Presiden bisa lebih diplomatif.

"Khawatirnya kalau kita gaungkan benci produk luar negeri, lalu dibalas benci produk Indonesia bagaimana? Kita jadi tidak bisa ekspor," kata Heri, Kamis (4/3).

Ia mengatakan, di banyak negara saat ini memang sudah mulai intens untuk mengajak masyarakatnya mengutamakan produk dalam negeri. Namun, hal itu dilakukan dengan slogan-slogan yang fokus pada negeri sendiri tanpa menyinggung negara lain.

Heri melanjutkan, yang terpenting adalah bagaimana agar pemerintah bisa memperkuat posisi industri dalam negeri untuk melakukan substitusi produk impor. "Itu kan perlu roadmap, apa yang mau dikurangi impornya harus diimbangi dengan kemampuan industri. Kalau kita langsung kurangi impor, nanti kekurangan barang repot juga," ujar dia.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah soal harga barang substitusi impor. Ia menekankan, harga juga harus bisa bersaing agar masyarakat benar-benar mengutamakan produk dalam negeri.

"Slogan yang harus dibangun itu aku cinta produk indonesia, produk lokal, atau made in Indonesia 2022. Banyak sebenarnya di berbagai negara. Tapi, kalau statement benci itu menyerang, ya kita nanti balas. Jadi, fokus ke industri kita saja," katanya.

Lebih lanjut, ia menilai pemerintah melalui Kementerian Perindustrian sudah memiliki semangat untuk substitusi impor, salah satunya dalam target penurunan impor produk manufaktur sebanyak 35 persen. Arah itu sudah baik, tetapi harus diiringi dengan tindakan agar utilisasi dan produktivitas industri dalam negeri ikut membaik.

Seruan untuk lebih banyak membeli produk dalam negeri disambut baik Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi). "Ini yang kami tunggu, setelah 10 tahun kami menggelorakan gerakan ayo kembali belanja ke pasar tradisional dan  ayo belanja ke warung rumahan untuk cintai produk dalam negeri dan produk-produk UMKM sendiri," kata Ketua Bidang Organisasi DPP Ikappi, Muhammad Ainun Najib, dalam keterangan resmi.

Ia mengatakan, ajakan dari Presiden patut dipandang positif. Harapannya, pesan Presiden mendapat respons positif juga dari masyarakat untuk kembali berdiri di kaki sendiri.

"Kita semua tahu bahwa pandemi ini menggerus seluruh sektor ekonomi. Jika kita tidak membangkitkan kembali sektor ekonomi, kita tidak mungkin bertahan untuk menghadapi pandemi," ujarnya.

Ia menyatakan, krisis ekonomi akan terus terjadi selama Indonesia sendiri tidak memutarkan produk-produk asli lokal sendiri untuk dikonsumsi di dalam negeri. "Maka, kita harus mengubah strategi untuk kembali mencintai produk kita sendiri," ujarnya.

Ainun mencontohkan, diketahui bersama 95 persen bawang putih yang dikonsumsi masih impor dari China dan beberapa komuditas lain, seperti kedelai, jagung, dan seterusnya akan terus mengalir impor-impor buah di dalam negeri. Katanya, ini adalah momentum petani kita untuk kembali bangkit dan pulih. Masyarakat juga harus kembali sadar bahwa produk dalam negeri jauh lebih berkualitas dibanding produk luar negeri ini momentum berbenah.

"Kami mengajak semua pihak untuk ikut membuat gerakan cinta produk dalam negri dan ikut membangkitkan usaha kecil menengah melalui semua media sosial yang dimiliki. Ini saatnya kita berdiri di kaki kita sendiri dan memperkuat ekonomi nasional. Ayo kembali belanja ke pasar tradisional," katanya.

Presiden Joko Widodo meminta Kementerian Perdagangan menyiapkan kebijakan dan strategi untuk mengembangkan pasar produk nasional, khususnya UMKM. Ia pun meminta agar jajarannya mendorong masyarakat untuk mencintai dan mendukung produk-produk dalam negeri serta menggaungkan untuk membenci produk-produk luar negeri.

“Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri harus terus digaungkan. Produk-produk dalam negeri digaungkan. Gaungkan juga benci produk-produk luar negeri. Bukan hanya cinta tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri,” kata Jokowi saat meresmikan pembukaan rapat kerja nasional kementerian perdagangan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3).

Selain itu, ia juga meminta agar pusat perbelanjaan seperti mall di berbagai daerah memberikan ruang bagi produk-produk buatan Indonesia, khususnya produk UMKM. Lokasi-lokasi strategis di pusat perbelanjaan pun harus diisi oleh merk produk-produk lokal.

“Jangan sampai ruang depan, lokasi-lokasi strategis justru diisi dari brand-brand dari luar negeri, ini harus mulai digeser. Mereka digeser ke tempat yang tidak strategis. Tempat yang strategis, lokasi yang baik berikan ruang untuk brand-brand lokal,” ujar dia.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa dan sebagai pasar yang sangat besar, seharusnya masyarakat lebih loyal dan mencintai produk-produk buatan bangsa. Karena itu, ia meminta agar branding untuk mencintai produk lokal harus lebih ditingkatkan.

“Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal, sekali lagi untuk produk-produk Indonesia,” tambahnya.

Sejalan dengan perintah Presiden, Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, menyampaikan ke depan merek-merek lokal akan menjadi primadona di berbagai pusat perbelanjaan di Indonesia. "Merek-merek Indonesia akan menjadi primadona di mal-mal di Indonesia, kita akan atur aturannya, supaya orang Indonesia bangga membeli produk-produk Indonesia dan turut mengembangkan produk lokal," kata Lutfi saat menggelar konferensi pers virtual.

Upaya tersebut sejalan dengan program pengembangan produk nasional melalui Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang digagas Presiden Jokowi, sehingga produk-produk buatan anak bangsa dapat dibanggakan dan dibeli oleh masyarakat Indonesia. Lutfi memaparkan selama ini pemerintah lebih fokus untuk mengembangkan sisi suplai perdagangan.

Untuk itu saatnya menggerakkan sisi permintaan. Indonesia dinilai potensial karena memiliki jumlah penduduk 270 juta jiwa.

"Konsumen Indonesia yang 270 juta jiwa itu adalah penting dan bisa memberikan nilai tambah, bargaining position terhadap negara lain, dan memajukan produk-produk buatan Indonesia," ujar Lutfi.

Dengan demikian, lanjut dia, masyarakat Indonesia dapat menjadi konsumen loyal bagi produk-produk yang diproduksi oleh sebangsanya, sehingga pelaku usaha baik industriawan hingga selaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Penulis: Dedy Darmawan Nasution, Dessy Suciati Saputri
 


Artikel Terbaru

politik | Rabu, 27 Oktober 2021

Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Pekanbaru merekomendasikan pencopotan Hamdani sebagai Ketua.


pekanbaru | Rabu, 27 Oktober 2021

Pemerintah Kota Pekanbaru melanjutkan evaluasi terhadap para pejabat eselon III dan IV. Langkah.


riau | Senin, 25 Oktober 2021

Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Provinsi Riau per 25 Oktober terdapat penambahan 16 kasus baru,.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru mendata mayoritas sekolah yang melaksanakan.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Capaian vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum di Kota Pekanbaru sudah lebih 70 persen. Total.



nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur,.


pasar | Senin, 25 Oktober 2021
.

nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Warga di Gang Gotong Royong, Munjul, Jakarta Timur mendengar dentuman keras saat dua rangkaian.


nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Presiden Joko Widodo meminta untuk regulasi hasil tes polymerase chain reaction (PCR) diubah.