Kerbau membutuhkan pakan yang berkualitas untuk tumbuh dan berkembangbiak dengan baik. Pakan merupakan pondasi atau dasar saat memulai usaha peternakan.

">
12 Zulqaidah 1442 H / Selasa, 22 Juni 2021
UP Animal Science Talk
Produk Samping Kelapa Sawit Bermanfaat untuk Meningkatkan Produktivitas Kerbau
kampar | Kamis, 6 Mei 2021
Editor : Molli Wahyuni | Penulis : Molli Wahyuni/rilis

Webinar "UP Animals Science Talk" yang digelar oleh Prodi Peternakan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai secara virtual melalui zoom meeting, baru-baru ini

BANGKINANG--Kerbau membutuhkan pakan yang berkualitas untuk tumbuh dan berkembangbiak dengan baik. Pakan merupakan pondasi atau dasar saat memulai usaha peternakan.

Bahan pakan yang diformulasikan menjadi pakan dapat bersumber dari Hijauan Pakan Ternak (HPT) maupun dari byproduct agroindustry dan perkebunan, seperti kelapa sawit. 

Demikian disampaikan oleh Pembina Prodi Peternakan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Dr Sadarman kepada Pekanbaruexpress.com, Kamis (6/5-2021) ketika berbincang tentang hasil kegiatan UP Animal Scienc Talk yang digelar baru-baru ini.

Dijelaskannya, pertemuan yang digelar secara virtual melalui zoom meeting tersebut dihadiri para akademisi, peneliti, dan mahasiswa. Ikut hadir Prof Suhubdy Yasin (Pakar Kerbau Indonesia), Moh Dwi Nugroho, Dr Ir Adrizal (Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang) dan Prof Dr Abdul Razak Alimon dari Universiti Putra Malaysia.

Tim Animal Science Talk menghadirkan Dr Ir Sadarman, Dosen Pembina Prodi Peternakan UP dari UIN Suska Riau untuk memandu 2 orang narasumber, Assoc Prof Dr Hasliza Abu Hassim dari Universiti Putra Malaysia dan Dr Rakhmad Perkasa Harahap, dosen muda Universitas Tanjungpura Pontianak.

"Alhamdulillah, rektor sangat menyambut baik kegiatan webinar internasional UP Animal Science Talk ini. Menurut hemat beliau, pembahasan terkait dengan perkembangan keilmuan dibidang peternakan perlu digali tanpa henti. 

Hal ini mengingat bahwa ilmu peternakan sejatinya adalah bersifat dinamis, selalu ada pembaharuan terkait dengan bibit, perkandangan, nutrient dan pakan, informasi tentang kesehatan, pengolahan hasil dan pemasaran produk,"ungkapnya.

Dr Osfar Sjofyan Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) mengapresiasi atas webinar yang diselenggarakan Prodi Peternakan UP yang melibatkan AINI DPW Riau sebagai pendukung. AINI DPW Riau telah melakukan gebrakan awal, menggagas webinar internasional bersama Prodi Peternakan.

Dukungan juga disampaikan Ketua Laboratori Produksi Haiwan Lestari dan Biodiversiti, Institut Pertanian Tropika dan Sekuriti Makanan (ITAFoS), Universiti Putra Malaysia Assoc Prof Dr Hasliza Abu Hassim memaparkan materi tentang Optimalisasi Pertumbuhan Kerbau Melalui Pakan Berkualitas.

Dikatakannya, pada dasarnya kerbau sama dengan ruminan lainnya, herbivora yang mengonsumsi rumput dan HPT lainnya sebagai pakan utamanya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuka pemikiran semuanya bahwa produk samping agroindustry dan perkebunan, misalnya kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan.  

Hasil risetnya sendiri menyebutkan bahwa oil palm frond dengan penambahan white rot fungi + fibrolytic enzyme dapat memberikan akses pada mikroba rumen untuk melepaskan ikatan selulosa dan hemiselulosa melalui degradasi oil palm frond.

Tantangan terbesar jika membudidayakan kerbau dengan menggunakan produk samping kelapa sawit adalah terletak pada upaya untuk memecah ikatan selulosa dan hemiselulosa, sehingga pakan tersebut dapat diutilisasi secara keseluruhan untuk didepositkan menjadi daging dan susu.

Terkait dengan pemecahan serat kasar yang tidak mudah dicerna, Dr Rakhmad Perkasa Harahap membeberkan teknik jitu yang telah ditelitinya hingga mendapatkan gelar master dalam nutrisi dan pakan. Menurutnya, penggunaan Fibre Cracking Teknology (FCT) dapat menurunkan kandungan Serat Kasar (SK) hingga 10% dari kontrol.

"Pelepah daun sawit dengan FCT memberikan hasil optimal dalam menurunkan SK, menariknya adalah terjadi peningkatan Protein Kasar (PK) dari 8.74% (kontrol) menjadi 11.4% PDS + FCT yang berasal dari larutan urea 3% atau disebut dengan Non Protein Nitrogen (NPN).

Artinya, penggunaan FCT memberikan benefit pada PDS yaitu tidak hanya menurunkan SK, namun PK ikutan naik, kemungkinan dari proses penambahan urea yang di-spray langsung ke sampel,” kata Dr Rakhmad.

Dikatakannya, kemampuan FCT dalam menurunkan SK tidak hanya sekedar isapan jempol semata, dari hasil risetnya disebutkan PDS + FCT mampu menurunkan NDF 29.8% dan ADF 14.2%.

"Penurunan SK pada dasarnya adalah dapat meningkatkan kecernaan dari PDS, sehingga PDS layak dijadikan sebagai pakan kerbau," kata Dr Rakhmad.



Artikel Terbaru
kampar | Selasa, 22 Juni 2021

Pembangunan Tol Pekanbaru-Bangkinang yang dikerjakan sudah mencapai 70 %. Namun percepatan.


kampar | Selasa, 22 Juni 2021

Bupati Kampar H Catur Sugeng Susanto SH meminta kepada seluruh satker untuk dapat menyikapi.


kampar | Selasa, 22 Juni 2021

Pemerintah Kabupaten Kampar terus memberikan perhatian kepada anak yatim, melalui Koordinator.


pelalawan | Senin, 21 Juni 2021

Desa Lubuk Kembang Bunga dan Desa Air Hitam Kecamatan Ukui yang kerap menjadi langganan banjir.


riau | Senin, 21 Juni 2021

Viralnya video warga Pekanbaru di sosial media yang antrian mengikuti vaksin massal yang digelar.


riau | Senin, 21 Juni 2021

Pemerintah provinsi (Pemprov) Riau melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Riau, menerima formasi.


riau | Senin, 21 Juni 2021

 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir meminta  pemerintah.


riau | Senin, 21 Juni 2021

Gubernur Riau (Gubri) H Syamsuar, Senin (21/6/2021) resmi melantik Bupati dan Wakil Bupati Rokan.


otomotif | Minggu, 20 Juni 2021

Di pasaran sudah menjamur radiator aftermarket yang menawarkan banyak kelebihan dibanding bawaan.


otomotif | Minggu, 20 Juni 2021

BMW Indonesia akhirnya meluncurkan BMW Seri-4 Coupe dan Convertible terbaru untuk pasar Tanah.


Penggunaan Sirekap di Pilkada Serentak 2020 Dikritik | Mengapa Saat Tidur Kita Disunnahkan Miring Kanan | "Aku bilang ke Dia Ini Adaptasi" | Kontribusi Pendapatan Data XL Capai 80 Persen | XL Axiata Pastikan Kemampuan Jaringan Data Meningkat | SKK Migas Gelar Pelatihan Migas untuk Anggota PWI | Guru Ancam Demo Besar Besaran | Dompet Dhuafa Riau-Indragiri Hulu ajak Anak-anak Jangan Takut Berbagi | Ini Dia Daftar Mobil LCGC Terlaris | Waketum DPP PAN, Bara Hasibuan Tolak Mundur |

Webinar "UP Animals Science Talk" yang digelar oleh Prodi Peternakan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai secara virtual melalui zoom meeting, baru-baru ini

UP Animal Science Talk

Produk Samping Kelapa Sawit Bermanfaat untuk Meningkatkan Produktivitas Kerbau

kampar | Kamis, 6 Mei 2021
Editor : Molli Wahyuni | Penulis : Molli Wahyuni/rilis

BANGKINANG--Kerbau membutuhkan pakan yang berkualitas untuk tumbuh dan berkembangbiak dengan baik. Pakan merupakan pondasi atau dasar saat memulai usaha peternakan.

Bahan pakan yang diformulasikan menjadi pakan dapat bersumber dari Hijauan Pakan Ternak (HPT) maupun dari byproduct agroindustry dan perkebunan, seperti kelapa sawit. 

Demikian disampaikan oleh Pembina Prodi Peternakan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Dr Sadarman kepada Pekanbaruexpress.com, Kamis (6/5-2021) ketika berbincang tentang hasil kegiatan UP Animal Scienc Talk yang digelar baru-baru ini.

Dijelaskannya, pertemuan yang digelar secara virtual melalui zoom meeting tersebut dihadiri para akademisi, peneliti, dan mahasiswa. Ikut hadir Prof Suhubdy Yasin (Pakar Kerbau Indonesia), Moh Dwi Nugroho, Dr Ir Adrizal (Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang) dan Prof Dr Abdul Razak Alimon dari Universiti Putra Malaysia.

Tim Animal Science Talk menghadirkan Dr Ir Sadarman, Dosen Pembina Prodi Peternakan UP dari UIN Suska Riau untuk memandu 2 orang narasumber, Assoc Prof Dr Hasliza Abu Hassim dari Universiti Putra Malaysia dan Dr Rakhmad Perkasa Harahap, dosen muda Universitas Tanjungpura Pontianak.

"Alhamdulillah, rektor sangat menyambut baik kegiatan webinar internasional UP Animal Science Talk ini. Menurut hemat beliau, pembahasan terkait dengan perkembangan keilmuan dibidang peternakan perlu digali tanpa henti. 

Hal ini mengingat bahwa ilmu peternakan sejatinya adalah bersifat dinamis, selalu ada pembaharuan terkait dengan bibit, perkandangan, nutrient dan pakan, informasi tentang kesehatan, pengolahan hasil dan pemasaran produk,"ungkapnya.

Dr Osfar Sjofyan Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) mengapresiasi atas webinar yang diselenggarakan Prodi Peternakan UP yang melibatkan AINI DPW Riau sebagai pendukung. AINI DPW Riau telah melakukan gebrakan awal, menggagas webinar internasional bersama Prodi Peternakan.

Dukungan juga disampaikan Ketua Laboratori Produksi Haiwan Lestari dan Biodiversiti, Institut Pertanian Tropika dan Sekuriti Makanan (ITAFoS), Universiti Putra Malaysia Assoc Prof Dr Hasliza Abu Hassim memaparkan materi tentang Optimalisasi Pertumbuhan Kerbau Melalui Pakan Berkualitas.

Dikatakannya, pada dasarnya kerbau sama dengan ruminan lainnya, herbivora yang mengonsumsi rumput dan HPT lainnya sebagai pakan utamanya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuka pemikiran semuanya bahwa produk samping agroindustry dan perkebunan, misalnya kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan.  

Hasil risetnya sendiri menyebutkan bahwa oil palm frond dengan penambahan white rot fungi + fibrolytic enzyme dapat memberikan akses pada mikroba rumen untuk melepaskan ikatan selulosa dan hemiselulosa melalui degradasi oil palm frond.

Tantangan terbesar jika membudidayakan kerbau dengan menggunakan produk samping kelapa sawit adalah terletak pada upaya untuk memecah ikatan selulosa dan hemiselulosa, sehingga pakan tersebut dapat diutilisasi secara keseluruhan untuk didepositkan menjadi daging dan susu.

Terkait dengan pemecahan serat kasar yang tidak mudah dicerna, Dr Rakhmad Perkasa Harahap membeberkan teknik jitu yang telah ditelitinya hingga mendapatkan gelar master dalam nutrisi dan pakan. Menurutnya, penggunaan Fibre Cracking Teknology (FCT) dapat menurunkan kandungan Serat Kasar (SK) hingga 10% dari kontrol.

"Pelepah daun sawit dengan FCT memberikan hasil optimal dalam menurunkan SK, menariknya adalah terjadi peningkatan Protein Kasar (PK) dari 8.74% (kontrol) menjadi 11.4% PDS + FCT yang berasal dari larutan urea 3% atau disebut dengan Non Protein Nitrogen (NPN).

Artinya, penggunaan FCT memberikan benefit pada PDS yaitu tidak hanya menurunkan SK, namun PK ikutan naik, kemungkinan dari proses penambahan urea yang di-spray langsung ke sampel,” kata Dr Rakhmad.

Dikatakannya, kemampuan FCT dalam menurunkan SK tidak hanya sekedar isapan jempol semata, dari hasil risetnya disebutkan PDS + FCT mampu menurunkan NDF 29.8% dan ADF 14.2%.

"Penurunan SK pada dasarnya adalah dapat meningkatkan kecernaan dari PDS, sehingga PDS layak dijadikan sebagai pakan kerbau," kata Dr Rakhmad.


Artikel Terbaru

kampar | Selasa, 22 Juni 2021

Pembangunan Tol Pekanbaru-Bangkinang yang dikerjakan sudah mencapai 70 %. Namun percepatan.


kampar | Selasa, 22 Juni 2021

Bupati Kampar H Catur Sugeng Susanto SH meminta kepada seluruh satker untuk dapat menyikapi.


kampar | Selasa, 22 Juni 2021

Pemerintah Kabupaten Kampar terus memberikan perhatian kepada anak yatim, melalui Koordinator.


pelalawan | Senin, 21 Juni 2021

Desa Lubuk Kembang Bunga dan Desa Air Hitam Kecamatan Ukui yang kerap menjadi langganan banjir.


riau | Senin, 21 Juni 2021

Viralnya video warga Pekanbaru di sosial media yang antrian mengikuti vaksin massal yang digelar.


riau | Senin, 21 Juni 2021

Pemerintah provinsi (Pemprov) Riau melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Riau, menerima formasi.


riau | Senin, 21 Juni 2021

 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir meminta  pemerintah.


riau | Senin, 21 Juni 2021

Gubernur Riau (Gubri) H Syamsuar, Senin (21/6/2021) resmi melantik Bupati dan Wakil Bupati Rokan.


otomotif | Minggu, 20 Juni 2021

Di pasaran sudah menjamur radiator aftermarket yang menawarkan banyak kelebihan dibanding bawaan.


otomotif | Minggu, 20 Juni 2021

BMW Indonesia akhirnya meluncurkan BMW Seri-4 Coupe dan Convertible terbaru untuk pasar Tanah.