20 Rabiul Awwal 1443 H / Rabu, 27 Oktober 2021
Ular Sanca Batik Berusia 30 Tahun Dilepasliarkan BKSDA Riau
riau | Rabu, 22 September 2021
Editor : Putra | Penulis : Hidayat

Petugas BKSA melepasliarkan ular Sanca batik berusia 30 tahun di salah kawasan konservasi alam di Riau. (Int)

PEKANBARU - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Amar PD melepasliarkan seekor ular sanca batik berusia 30 tahun di salah kawasan konservasi alam di Riau. Satwa melata bernama latin Python reticulatus berbobot sekitar 120 kg.

Ular berjenis kelamin betina itu juga memiliki panjang tubuh sampai 9 meter.  Ular itu merupakan hasil evakuasi Amar yang merupakan pecinta reptil di wilayah Kabupaten Pelalawan.

Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Hartono merinci, ular itu dievakuasi Amar di sebuah kebun kelapa sawit di Desa Sungai Buluh Cina, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Kemudian diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau untuk dilepasliarkan ke habitatnya.

"Kita melepasliarkan satwa tersebut disalah satu kawasan konservasi yang jauh dari pemukiman warga, tim menempuh perjalanan ke dalam kawasan dengan menyusuri sungai dan perbukitan yang memakan waktu sekitar 1 jam dengan berjalan kaki", terangnya.

Hartono menjelaskan, Ular sanca batik (Python reticulatus) merupakan salah satu satwa dengan status kategori tidak dilindungi, namun masuk dalam konvensi internasional perdagangan internasional spesies satwa dan tumbuhan liar terancam punah atau CITES.

"Jenis ular ini masuk dalam kategori appendik II yaitu spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan berupa adanya Kuota Tangkap/Ambil TSL yang tidak dlindungi yang masuk dalam appendik CITES ataupun non appendik CITES," ungkap Hartono.

Kuota ini ditetapkan oleh Dirjen KSDAE setiap tahunnya berdasarkan rekomendasi dari LIPI dan berlaku untuk satu tahun takwim, adapun dasar dalam penetapan kuota tersebut berdasarkan Kepmenhut No. 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan satwa liar. *



Artikel Terbaru
politik | Rabu, 27 Oktober 2021

Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Pekanbaru merekomendasikan pencopotan Hamdani sebagai Ketua.


pekanbaru | Rabu, 27 Oktober 2021

Pemerintah Kota Pekanbaru melanjutkan evaluasi terhadap para pejabat eselon III dan IV. Langkah.


riau | Senin, 25 Oktober 2021

Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Provinsi Riau per 25 Oktober terdapat penambahan 16 kasus baru,.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru mendata mayoritas sekolah yang melaksanakan.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Capaian vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum di Kota Pekanbaru sudah lebih 70 persen. Total.



nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur,.


pasar | Senin, 25 Oktober 2021
.

nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Warga di Gang Gotong Royong, Munjul, Jakarta Timur mendengar dentuman keras saat dua rangkaian.


nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Presiden Joko Widodo meminta untuk regulasi hasil tes polymerase chain reaction (PCR) diubah.


Okt 2021
27


Petugas BKSA melepasliarkan ular Sanca batik berusia 30 tahun di salah kawasan konservasi alam di Riau. (Int)

Ular Sanca Batik Berusia 30 Tahun Dilepasliarkan BKSDA Riau

riau | Rabu, 22 September 2021
Editor : Putra | Penulis : Hidayat

PEKANBARU - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Amar PD melepasliarkan seekor ular sanca batik berusia 30 tahun di salah kawasan konservasi alam di Riau. Satwa melata bernama latin Python reticulatus berbobot sekitar 120 kg.

Ular berjenis kelamin betina itu juga memiliki panjang tubuh sampai 9 meter.  Ular itu merupakan hasil evakuasi Amar yang merupakan pecinta reptil di wilayah Kabupaten Pelalawan.

Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Hartono merinci, ular itu dievakuasi Amar di sebuah kebun kelapa sawit di Desa Sungai Buluh Cina, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Kemudian diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau untuk dilepasliarkan ke habitatnya.

"Kita melepasliarkan satwa tersebut disalah satu kawasan konservasi yang jauh dari pemukiman warga, tim menempuh perjalanan ke dalam kawasan dengan menyusuri sungai dan perbukitan yang memakan waktu sekitar 1 jam dengan berjalan kaki", terangnya.

Hartono menjelaskan, Ular sanca batik (Python reticulatus) merupakan salah satu satwa dengan status kategori tidak dilindungi, namun masuk dalam konvensi internasional perdagangan internasional spesies satwa dan tumbuhan liar terancam punah atau CITES.

"Jenis ular ini masuk dalam kategori appendik II yaitu spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan berupa adanya Kuota Tangkap/Ambil TSL yang tidak dlindungi yang masuk dalam appendik CITES ataupun non appendik CITES," ungkap Hartono.

Kuota ini ditetapkan oleh Dirjen KSDAE setiap tahunnya berdasarkan rekomendasi dari LIPI dan berlaku untuk satu tahun takwim, adapun dasar dalam penetapan kuota tersebut berdasarkan Kepmenhut No. 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan satwa liar. *


Artikel Terbaru

politik | Rabu, 27 Oktober 2021

Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Pekanbaru merekomendasikan pencopotan Hamdani sebagai Ketua.


pekanbaru | Rabu, 27 Oktober 2021

Pemerintah Kota Pekanbaru melanjutkan evaluasi terhadap para pejabat eselon III dan IV. Langkah.


riau | Senin, 25 Oktober 2021

Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Provinsi Riau per 25 Oktober terdapat penambahan 16 kasus baru,.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru mendata mayoritas sekolah yang melaksanakan.


pekanbaru | Senin, 25 Oktober 2021

Capaian vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum di Kota Pekanbaru sudah lebih 70 persen. Total.



nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur,.


pasar | Senin, 25 Oktober 2021
.

nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Warga di Gang Gotong Royong, Munjul, Jakarta Timur mendengar dentuman keras saat dua rangkaian.


nusantara | Senin, 25 Oktober 2021

Presiden Joko Widodo meminta untuk regulasi hasil tes polymerase chain reaction (PCR) diubah.