10 Muharram 1444 H / Senin, 8 Agustus 2022
Rendang Babi Bikin Ribut
opini | Senin, 27 Juni 2022
Editor : Lin | Penulis : Yoga Martilova, S.I.Kom

Ilustrasi: Rendang/int

BELUM lama ini, polemik atas kemunculan rendang non-halal dengan bahan dasar daging babi telah memicu polemik di tengah masyarakat.

Bermula saat sebuah akun Twitter dengan username @Hilmi28 mengunggah satu tangkapan layar dari sebuah toko online bernama Babiambo yang memiliki satu menu makanan khas Padang non-halal dan disertai dengan pernyataan singkat bentuk ketidaksetujuannya.

Hal tersebut kemudian diwarnai beragam perbedaan pendapat dan persepsi. Kemunculan rendang non-halal dinilai sangat kontradiksi  dengan ajaran Agama Islam yang mengharamkan daging babi. Hal ini turut mengundang reaksi dari Gubernur Sumatera Barat.

Dilansir dari Republika.co.id, Mahyeldi memberi kecaman atas munculnya rendang non-halal dari Babiambo lantaran sangat bertentangan dengan keteguhan prinsip dan falsafah minang yakni “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. 

Mahyeldi menegaskan bahwa polemik ini seharusnya tidak terjadi karena sudah jelas bahwa seluruh masakan dengan penggunaan embel-embel Padang merupakan makanan halal.

Berbagai tanggapan berseberangan pun muncul lantaran menganggap masakan merupakan sesuatu yang sifatnya universal.Seperti salah seorang tokoh agama Gus Miftah yang ikut menanggapi isu ini dengan mempertanyakan “Sejak kapan rendang punya agama?” dan berujar bahwa isu ini tidak perlu dibersar-besarkan. 

Dari polemik diatas dapat dilihat bahwa terjadinya kekeliruan dan kegagalan persepsi akibat adanya asumsi dan pengharapan. Seperti perbedaan internalisasi dalam diri setiap orang untuk dapat memahami persepsi dari orang lain. Lalu upaya menggeneralisasikan individu lain berdasarkan informasi yang minim dan membentuk asumsi baru atas dasar identitas dan faktor internal seperti Agama, Ideologi dan Tingkat intelektualitas. 

Dan yang paling krusial adalah ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri (Personality mal-adjustment) atau Gegar Budaya. Melihat fakta bahwa akan hadir suatu efek yang kuat atas persepsi pada saat membentuk kesan mengenai suatu hal.

Maka kekeliruan dan kegagalan persepsi menjadi tanggungjawab setiap individu untuk dapat dihindari.Guna menjadi acuan, lewat bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Mulyana menyebut persepsi terikat oleh budaya (culture-bound). 

Menurutnya, dalam memaknai pesan, objek, atau lingkungan seseorang bergantung pada sistem nilai yang dianutnya. Hal tersebut membawa pengaruh pada terciptanya realitas seseorang dalam mengenali berbagai ransangan, agama, ideologi, dan tingkat intelektualitas.

Dengan adanya perbedaan kebudayaan yang dianut akan memberikan ruang guna terciptanya dua sisi persepsi yang berbeda. Sebagai implikasi dari sifat subjektif dari pembetukkan persepsi seseorang.

Sementara itu merujuk pemikiran Samovar dan Porter tentang adanya enam unsur budaya yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi persepsi seseorang dalam proses komunikasi antara dua orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda yakni Kepercayaan (beliefs), Nilai (values), dan sikap (attitudes); Pandangan dunia (worldview); Organisasi sosial (social organization); Tabiat manusia (human nature); Orientasi kegiatan (activity orientation); dan Persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others). 

Keenam unsur budaya diatas dapat menjadi acuan dalam memahami kepercayaan dan nilai yang dianut. Melihat sifat dari persepsi seseorang adalah subjektif serta nilai dan kepercayaan dalam menafsirkan suatu kebudayaan bersifat stabil.

Bentuk persepsi mencakup kegunaan dan kepuasan dari siapapun yang ingin menafsirkan sesuatu. Sebagai nilai yang biasanya bermuara pada isu filosofis. 

Maka, dengan melihat melihat latar terjadinya polemik ini adalah melalui media sosial -Twitter, maka perlu didukung pengembangan baik pengembangan kritis maupun partisipasi aktif, sehingga masyarakat Indonesia bukan hanya dapat menafsirkan berbagai informasi yang diperoleh, akan tetapi memampukan diri dalam menjadi produser media dengan caranya sendiri. Memilih informasi serta menyikapi dengan bijak.

 

Penulis: Yoga Martilova, S.I.Kom



Artikel Terbaru
hukum | Sabtu, 6 Agustus 2022

Peristiwa gantung diri seorang mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) mengegerkan warga di.


riau | Sabtu, 6 Agustus 2022

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar mengaku permintaan yang disampaikan ke Plt Menteri Pendayagunaan.


pelalawan | Sabtu, 6 Agustus 2022

Perkumpulan Sambo Indonesia (PERSAMBI) Kabupaten Pelalawan resmi dikukuhkan  oleh Ketua.


riau | Sabtu, 6 Agustus 2022

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Riau menggelar kegiatan bakti sosial sekaligus.


hukum | Jumat, 5 Agustus 2022

Tiga Jenderal Mabes Polri yang.


hukum | Jumat, 5 Agustus 2022

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan mutasi terhadap 15 personel terkait kasus.



hukum | Jumat, 5 Agustus 2022

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Irjen Ferdy Sambo dari jabatan Kadiv Propam dan.


wanita | Jumat, 5 Agustus 2022

MIMI Tyana, sosok dibalik kifrah dan keberadaan Komunitas Hamba Allah (KHA) di.


riau | Kamis, 4 Agustus 2022

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menegaskan dan berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas.


Agu 2022
08

PT IJA/JCI Siap Jadi Pilot Project Sistem Pengamanan Objek Vital | Dua Pejabat Kementerian ATR/BPN Diperiksa Kasus Korupsi Duta Palma | PT IJA/JCI Sukses Laksanakan Vaksinasi Tahap II | Dari Model, Dokter, ke Jubir Covid | Hyundai Pekanbaru Andalkan Kona, Ini Keunggulan dan Harganya | Chevron Berencana PHK 10 Persen Karyawan | Polsek GAS Kunjungi Rumah Warga Beri Bantuan |

Ilustrasi: Rendang/int

Rendang Babi Bikin Ribut

opini | Senin, 27 Juni 2022
Editor : Lin | Penulis : Yoga Martilova, S.I.Kom

BELUM lama ini, polemik atas kemunculan rendang non-halal dengan bahan dasar daging babi telah memicu polemik di tengah masyarakat.

Bermula saat sebuah akun Twitter dengan username @Hilmi28 mengunggah satu tangkapan layar dari sebuah toko online bernama Babiambo yang memiliki satu menu makanan khas Padang non-halal dan disertai dengan pernyataan singkat bentuk ketidaksetujuannya.

Hal tersebut kemudian diwarnai beragam perbedaan pendapat dan persepsi. Kemunculan rendang non-halal dinilai sangat kontradiksi  dengan ajaran Agama Islam yang mengharamkan daging babi. Hal ini turut mengundang reaksi dari Gubernur Sumatera Barat.

Dilansir dari Republika.co.id, Mahyeldi memberi kecaman atas munculnya rendang non-halal dari Babiambo lantaran sangat bertentangan dengan keteguhan prinsip dan falsafah minang yakni “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. 

Mahyeldi menegaskan bahwa polemik ini seharusnya tidak terjadi karena sudah jelas bahwa seluruh masakan dengan penggunaan embel-embel Padang merupakan makanan halal.

Berbagai tanggapan berseberangan pun muncul lantaran menganggap masakan merupakan sesuatu yang sifatnya universal.Seperti salah seorang tokoh agama Gus Miftah yang ikut menanggapi isu ini dengan mempertanyakan “Sejak kapan rendang punya agama?” dan berujar bahwa isu ini tidak perlu dibersar-besarkan. 

Dari polemik diatas dapat dilihat bahwa terjadinya kekeliruan dan kegagalan persepsi akibat adanya asumsi dan pengharapan. Seperti perbedaan internalisasi dalam diri setiap orang untuk dapat memahami persepsi dari orang lain. Lalu upaya menggeneralisasikan individu lain berdasarkan informasi yang minim dan membentuk asumsi baru atas dasar identitas dan faktor internal seperti Agama, Ideologi dan Tingkat intelektualitas. 

Dan yang paling krusial adalah ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri (Personality mal-adjustment) atau Gegar Budaya. Melihat fakta bahwa akan hadir suatu efek yang kuat atas persepsi pada saat membentuk kesan mengenai suatu hal.

Maka kekeliruan dan kegagalan persepsi menjadi tanggungjawab setiap individu untuk dapat dihindari.Guna menjadi acuan, lewat bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Mulyana menyebut persepsi terikat oleh budaya (culture-bound). 

Menurutnya, dalam memaknai pesan, objek, atau lingkungan seseorang bergantung pada sistem nilai yang dianutnya. Hal tersebut membawa pengaruh pada terciptanya realitas seseorang dalam mengenali berbagai ransangan, agama, ideologi, dan tingkat intelektualitas.

Dengan adanya perbedaan kebudayaan yang dianut akan memberikan ruang guna terciptanya dua sisi persepsi yang berbeda. Sebagai implikasi dari sifat subjektif dari pembetukkan persepsi seseorang.

Sementara itu merujuk pemikiran Samovar dan Porter tentang adanya enam unsur budaya yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi persepsi seseorang dalam proses komunikasi antara dua orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda yakni Kepercayaan (beliefs), Nilai (values), dan sikap (attitudes); Pandangan dunia (worldview); Organisasi sosial (social organization); Tabiat manusia (human nature); Orientasi kegiatan (activity orientation); dan Persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others). 

Keenam unsur budaya diatas dapat menjadi acuan dalam memahami kepercayaan dan nilai yang dianut. Melihat sifat dari persepsi seseorang adalah subjektif serta nilai dan kepercayaan dalam menafsirkan suatu kebudayaan bersifat stabil.

Bentuk persepsi mencakup kegunaan dan kepuasan dari siapapun yang ingin menafsirkan sesuatu. Sebagai nilai yang biasanya bermuara pada isu filosofis. 

Maka, dengan melihat melihat latar terjadinya polemik ini adalah melalui media sosial -Twitter, maka perlu didukung pengembangan baik pengembangan kritis maupun partisipasi aktif, sehingga masyarakat Indonesia bukan hanya dapat menafsirkan berbagai informasi yang diperoleh, akan tetapi memampukan diri dalam menjadi produser media dengan caranya sendiri. Memilih informasi serta menyikapi dengan bijak.

 

Penulis: Yoga Martilova, S.I.Kom


Artikel Terbaru

hukum | Sabtu, 6 Agustus 2022

Peristiwa gantung diri seorang mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) mengegerkan warga di.


riau | Sabtu, 6 Agustus 2022

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar mengaku permintaan yang disampaikan ke Plt Menteri Pendayagunaan.


pelalawan | Sabtu, 6 Agustus 2022

Perkumpulan Sambo Indonesia (PERSAMBI) Kabupaten Pelalawan resmi dikukuhkan  oleh Ketua.


riau | Sabtu, 6 Agustus 2022

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Riau menggelar kegiatan bakti sosial sekaligus.


hukum | Jumat, 5 Agustus 2022

Tiga Jenderal Mabes Polri yang.


hukum | Jumat, 5 Agustus 2022

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan mutasi terhadap 15 personel terkait kasus.



hukum | Jumat, 5 Agustus 2022

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Irjen Ferdy Sambo dari jabatan Kadiv Propam dan.


wanita | Jumat, 5 Agustus 2022

MIMI Tyana, sosok dibalik kifrah dan keberadaan Komunitas Hamba Allah (KHA) di.


riau | Kamis, 4 Agustus 2022

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menegaskan dan berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas.