|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
RIAU - Kekhawatiran akan dampak teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja, khususnya di industri editorial, semakin mendalam. Baru-baru ini, seorang penulis dan editor berbagi pengalaman pahitnya yang terjadi di Gizmodo, sebuah blog teknologi yang telah beroperasi sejak 2002. Pengalaman ini menjadi sorotan ketika perusahaan media tersebut memutuskan untuk mengadopsi AI untuk melaksanakan tugas penerjemahan.
Dilansir oleh India Today pada Senin (11/9/2023), perubahan ini berdampak besar terhadap beberapa staf yang bekerja di Gizmodo en Español, cabang berbahasa Spanyol dari Gizmodo. Mereka dipecat dan digantikan oleh AI dalam menjalankan tugas penerjemahan. Sekarang, pengguna yang mengunjungi situs berbahasa Spanyol akan menemukan pesan di artikel yang menjelaskan bahwa konten tersebut telah diterjemahkan otomatis dari materi aslinya. Untuk versi asli, pengguna diminta untuk mengklik tautan terkait.
Salah satu karyawan yang terkena dampak, Matas S. Zavia, secara terbuka mengungkapkan rasa frustrasinya melalui media sosial X (sebelumnya Twitter). Dia menggambarkan perubahan ini sebagai pergeseran Gizmodo menjadi penerbit terjemahan mandiri, di mana AI telah mengambil alih peran editor manusia.
Pimpinan Gizmodo menjelaskan bahwa mereka telah memulai penggunaan layanan terjemahan tingkat lanjut yang dikelola oleh AI untuk menerjemahkan artikel berbahasa Inggris ke bahasa Spanyol. Mereka melihat ini sebagai langkah awal untuk menciptakan versi artikel mereka dalam berbagai bahasa, dengan harapan mendatangkan pembaca baru. Namun, perubahan penting yang mereka terapkan adalah dengan tidak lagi mencantumkan nama penulis manusia pada artikel terjemahan.
Kelompok yang mewakili para pekerja Gizmodo, GMG Union, mengeluarkan kritik tajam terhadap penggunaan AI ini. Mereka mengecam Gizmodo karena menggantikan jurnalis berpengalaman dengan AI, sambil menyoroti bahwa artikel yang diterjemahkan sering kali kurang berkualitas karena tidak adanya campur tangan penyuntingan manusia.
Kehilangan pekerjaan karena penggunaan AI bukanlah fenomena baru, dan banyak perusahaan telah mengadopsi teknologi ini untuk efisiensi dan penghematan biaya. Beberapa pemimpin perusahaan bahkan telah mengungkapkan rencana untuk menggantikan pekerja manusia dengan mesin.
Ribuan Warga Padati Kampar Utara, Rela Berjalan Ratusan Meter Demi Saksikan Pembukaan MTQ ke-54
Ribuan Warga Kepung Kantor Gubernur Riau, Tuntut Kepastian Nasib di Tesso Nilo
Namun, perlu dicatat bahwa keberhasilan penggunaan AI tidak selalu terjamin, dan beberapa perusahaan telah menghadapi masalah karena kurangnya pengawasan manusia yang memadai dalam mengimplementasikannya. Tantangan yang perlu diatasi adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara memanfaatkan AI dan memastikan bahwa pekerja manusia tidak terancam kehilangan pekerjaan akibatnya.