|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Pekanbaru - Ketegangan geopolitik di Eropa kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan keras terkait kepentingan strategis AS di Greenland. Pernyataan tersebut memicu reaksi dari Denmark, Uni Eropa, serta sejumlah pemimpin NATO yang menilai isu ini berpotensi mengganggu stabilitas keamanan kawasan Eropa dan Arktik.
Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak bisa membiarkan Greenland berada di luar kendali strategisnya. “Greenland is vital for our national security. We cannot ignore the threats coming from Russia and China,” kata Trump dalam pernyataannya. Ia juga menegaskan bahwa AS akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya. “It will be done,” ujarnya singkat saat ditanya apakah Washington akan meningkatkan tekanan terhadap Denmark.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Pemerintah Denmark. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menegaskan bahwa Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark dan status tersebut tidak dapat diganggu gugat. “Greenland belongs to the people of Greenland, and Denmark will not accept any attempt to undermine its sovereignty,” kata Frederiksen dalam pernyataan resminya.
Polemik Bandara IMIP: Ketika Pernyataan Pejabat Negara Tak Lagi Sejalan
BMKG: Cuaca Riau, Waspada Hujan Disertai Petir di Malam Hari
Frederiksen juga menekankan bahwa isu keamanan harus diselesaikan melalui dialog dan kerja sama internasional. “We believe that challenges in the Arctic must be addressed through cooperation, not confrontation,” ujarnya. Denmark dilaporkan telah meningkatkan kehadiran militernya di Greenland sebagai langkah defensif untuk memastikan stabilitas kawasan.
Reaksi juga datang dari Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan dukungan penuh kepada Denmark dan menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional. “Europe stands firmly behind the principles of sovereignty and territorial integrity,” kata von der Leyen. Ia menambahkan bahwa tekanan sepihak berisiko merusak tatanan global berbasis aturan. “Any escalation would be harmful not only for Europe, but for global stability,” ujarnya.