|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah masih akan melemah dan bisa mencapai kisaran Rp 15.900 hingga Rp 16.100 per dolar AS. Penurunan terus-menerus nilai rupiah akan memiliki beberapa dampak, terutama terasa oleh masyarakat. Pada tanggal 20 Oktober 2023, nilai tukar rupiah sudah mencapai Rp 15.878 per dolar AS.
"Harga kebutuhan pokok mungkin akan naik atau terjadi inflasi impor karena sebagian besar bahan makanan masih diimpor, terutama beras, bawang putih, dan gula," kata Bhima dalam wawancara dengan Republika.co.id pada Jumat (20/10/2023).
Selain itu, dampak lainnya adalah risiko kenaikan suku bunga yang dapat memberikan tekanan pada permintaan kredit. Bhima memproyeksikan bahwa jika inflasi semakin meningkat karena pelemahan nilai tukar, BI mungkin harus menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi, yang tidak menguntungkan bagi masyarakat yang berencana mengambil KPR atau pinjaman modal usaha.
Nilai Tukar Rupiah Melemah Rp16.771 per Dolar AS
Jaket Desain Khusus Bupati Siak Terjual Rp8 Juta, Donasi Korban Bencana Sumatera Tembus Miliaran Rupiah
Sebelumnya, pada tanggal 19 Oktober 2023, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi enam persen. BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen dan suku bunga lending facility yang juga naik menjadi 6,75 persen.
BI mengungkapkan bahwa dolar AS saat ini terus menguat. Penguatan dolar AS ini berdampak pada pelemahan berbagai mata uang negara lain, termasuk rupiah.